Kasus Florence yang menghina warga Jogjakarta sedang booming di media dalam beberapa hari terakhir ini. Sebenarnya kasus ini ringan tapi beritanya melebihi kasus korupsi. Kesalahan paling fatal adalah ketika Florence membuat pernyataan (makian) di twitter. Seandainya dia tidak melampiaskan di twitter mungkin akibatnya tidak akan serumit ini. Emosi negatif memang selalu ada pada diri manusia, jadi emosi itu wajar. Sebenarnya silahkan mencaci tapi cukup di depan orangnya saja tapi jangan disiarkan ke seluruh dunia. Emosi itu boleh tapi haruslah bijak dalam menyalurkan emosinya, jangan salah pilih media pelampiasannya.
Permasalahan yang sampai dibawa ke urusan hukum juga saya nilai juga sudah terlalu berlebihan. Menurut saya permintaan maaf itu adalah pernyataan pengakuan bahwa florence. Tapi hukumannya menurut saya lebih berat daripada perbuatannya. Cukup hukum dia secara sosial saja, jangan dengan hukum pidana. Karena ranah hujatannya juga arahnya ke sosial. Hujatan di media sosial yang diterima menurut saya sudah sangat cukup untuk membuat yang bersangkutan menyesal dan tidak akan mengulangi lagi.
Saya sangat kagum atas kebesaran hati seorang raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X yang mengungkapkan
"Dia (Florence) tadi menyampaikan permintaan maaf kepada saya. Kewajiban saya adalah untuk memberikan maaf" Ujar Sultan Hamengkubuwono X
"Saya berharap semua warga Yogya juga memaafkan" tambah Sultan
Sultan meminta agar masyarakat Yogya memberikan kesempatan kepada Florence untuk bisa tinggal di Yogyakarta sehingga dia bisa belajar, tidak hanya pendidikan, tetapi juga belajar tentang nilai-nilai kehidupan dimasyarakat.
Rasa kebesaran hati seperti inilah yang seharusnya jadi teladan. Raja saja memaafkan dengan tulus rakyatnya juga harus memaafkan. Dengan kita memenjarakan Florence kita dapat apa sih? Tidak dapat apa-apa. Berarti ormas yang memperkarakan Florence sifatnya sama saja dengan florence yang tidak dapat melampiaskan emosi dengan bijak
Memang seandainya daerah saya yang dihina saya akan marah jika daerah saya di jelek-jelekkan orang dari daerah lain. Yang didapat dari kisah Florence ini adalah suatu pelajaran berharga untuk kita semua. Bijaklah dalam menggunakan media sosial, dan bijaklah dalam mengendalikan emosi. Saya rasa tidak perlu memperpanjang masalah ini, karena menurut saya yang memperkarakan masalah Florence hanya segelintir orang bukan semua warga Jogja. Bukankah Kita adalah bangsa yang berbudaya ketimuran. Kedepankanlah adat sopan santun dalam berucap dan berperilaku.
Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2014/09/04/15234261/Sultan.Berharap.Flo.Tetap.di.Yogya.dan.Selesaikan.Kuliahnya?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news
Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2014/09/04/15234261/Sultan.Berharap.Flo.Tetap.di.Yogya.dan.Selesaikan.Kuliahnya?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news


